Senin, 15 Oktober 2012

MEMBUAT BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN

I. Tujuan
   - Untuk memperoleh alkohol dari hasil fermentasi dari limbah pepaya
II. Dasar Teori 
    Buah pepaya yang sudah tidak layak jual bisa dimanfaatkan untuk bahan baku bioetano. Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi merupakan bahan yang potensial untuk bahan baku bioetanol. Buah yang dipakai bukan buah yang masih bagus dan segar, tetapi buah-buah yang sudah tidak layak jual atau hampir busuk. Daripada buah-buah ini dibuang tanpa harga, akan lebih baik jika diolah menjadi bioethanol .
        Kadar gula buah pepaya belum dianalisis di laboratorium, jadi belum diketahui berapa kadar yang tepat. Buah pepaya yang sudah masak rasanya manis diperkirakan bisa sampai 10% kadar gulanya. Kadar yang cukup tinggi untuk dibuat ethanol.
     Misalnya seluruh gula di dalam pepaya bisa diubah menjadi etanol, maka etanol yang bisa diproduksi sekitar 5.1%. Realitasnya efisiensinya tidak pernah 100%. Mungkin hanya 85-90% yang bisa diambil. Demikian juga kadar etanolnya mungkin 60%, 80%, atau 95%. Nilai ini akan bertambah besar jika limbah bioetanolnya diolah kembali menjadi pupuk organik cair (POC)
.
III. Alat Dan Bahan
Alat
  1. Blender
  2. Destilator sederhana
  3. Botol
  4. Kain saring
  5. Baskom 
Bahan 
  1. Pepaya
  2. Ragi roti 

IV. Cara Kerja
 1. Buah dihancurkan terlebih dahulu dengan menngunakan blender
 2. Dimasukkan ragi ke pepaya yang sudah dihancurkan dan diaduk sampai merata.
 3. Fermentasi pepaya didiamkan selama 72 jam atau 3 hari, sampai tidak muncul buihnya lagi.
 4. Fermentasi pepaya diperas dan diambil airnya.
 5. Air perasan ini kemudian didistilasi untuk mendapatkan ethanol.
V. Hasil Pengamatan

Air pepaya yang dihasilkan : 900 ml
Air pepaya yang didestilasi : 300 ml
Hasil Etanol yang di destilasi : 11 ml etanol

a. Uji kualitatif
Dilakukan uji coba H2SO4 dan K2CrO4 : menghasilkan warna hijau 

b. Uji kuantitatif

ρ = m/v
 dimana :
  m = (gelas ukur + etanol) - (gela sukur kosong)
  v = volume etanol yang dimasukan 

 Diketahui :
 m = 43.05  - 33.74 gram
 v  = 11 ml

 Ditanya :
 kadar etanol ?

 Jawab :
ρ =  9.31 / 11
   = 0.84

Dari hasil perhitungan  yang didapat densitinya adalah 0.84 jika dilihat pada tabel farmakope, kadar etanol untuk densiti 0,84 adalah sebesar 85% 

VII. Pembahasan
     Pada percobaan ini dilakukan pembuatan etanol dari buah - buah yang sudah tidak terpakai. Buah pepaya ini merupakan salah satu bahan yang potensial untuk dijadikan menghasilkan bioetanol karena memiliki kadar gula yang tinggi. 
   Lalu difermentasi dengan mencampurkan ragi pada pepaya yang sudah dihancurkan terlebih dahulu yang berfungsi untuk menghasilkan etanol dari buah tersebut.
      Setelah didiamkan selama kurang lebih 3 hari, kemudian didestilasi untuk memisahkan etanol dengan air pepayanya ternyata dari 300 ml yang didestilasi hanya mendapatkan 11 ml etanol.
      Kemudian di uji dengan asam sulfat pekat dan K2CrO4 untuk menguji apakah ada etanol murni di dalam buah yang difermentasi ternyata ada, karena uji ini menunjukan warna hijau pada larutan.
   Lalu ketika diuji dengan metode m/v dengan menggunakan gelas ukur didatkan kadar etanol sebesar 85%

VII. Kesimpulan
- Buah pepaya dapat menghasilkan etanol.
- Kadar etanol dari hasil fermentasi pepaya adalah sebesar 85%

IX. Daftar Pustaka


Laporan Kadar Kandungan Etanol dari Hasil Destilasi Tape Singkong

          Pada percobaan destilasi fermentasi tape singkong, destilasi dilakukan sebanyak dua kali. Pada destilasi yang pertama, menghasilkan larutan sampel sebanyak 28 ml dari 100 ml air tape. Sedangkan pada destilasi yang kedua, menghasilkan larutan sampel sebanyak 10 ml dari 65 ml air tape.

Untuk pengujian etanol dari hasil destilasi yang didapat dilakukan dengan 2 metode :

1. Uji Kualitatif
    Dari masing - masing sampel hasil destilasi diambil 2ml sampel, kemudian di tambahkan K2CrO4, setelah itu didiamkan beberapa saat hingga kemudian terjadi perubahan warna menjadi warna hijau, yang membuktikan bahwa, terdapat kandungan etanol pada hasil destilasi yang telah dilakukan.

2. Uji Kuantitatif
     Untuk hasil destilasi yang menghasilkan 28 ml dilakukan pengujian kadar etanol dengan menggunakan piknometer, karena yang dihasilakn lebih dari 25 ml.
         Kadar etanol hasil fermentasi dapat dihitung dengan metode piknometer yaitu dengan rumus:
ρ = M3-M1/M2-M1
ρ = bobot jenis
 dimana :
  M1= masa piknometer kosong
  M2 = massa piknometer + air
  M3 = massa piknometer + sampel

Diketahui :
  M1=  23,48 gram
  M2 = 47,92 gram
  M3 = 47,64 gram

Ditanya :
  Kadar etanol

Jawab : 
 ρ = (47,64 - 23,48) / (47,92 - 23,48)
    = 24.16 / 24.44
    = 0.98

Dari hasil perhitungan yang didapat densitinya adalah 0.98 jika dilihat pada tabel farmakope, kadar etanol untuk densiti 0,98 adalah sebesar 15% 

       Untuk hasil destilasi sebesar 10 ml menggunakan perhitungan dengan rumus

ρ = m/v

 dimana :
   m = (gelas ukur + etanol) - (gela sukur kosong)
   v = volume etanol yang dimasukan 

Diketahui :
 m = 44,51 - 35,29 gram
 v  = 10 ml

Ditanya :
    kadar etanol :

Jawab :
ρ = 9,22 / 10
   =  0.92

        Dari hasil perhitungan  yang didapat densitinya adalah 0.92 jika dilihat pada tabel farmakope, kadar etanol untuk densiti 0,98 adalah sebesar 55%
  

           Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar etanol untuk hasil destilasi 10 ml lebih besar dibandingkan dengan yang 28 ml, karena untuk hasil yang 28 ml kemungkinan memiliki kandungan air yang tercampur pada saat destilasi

       

Teori Azeotrof


          Azeotrop merupakan campuran 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut dididihkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut :

            Titik A pada pada kurva merupakan boiling point campuran pada kondisi sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan uapnya dipisahkan dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini kemudian didinginkan dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. (ditandai dengan garis vertikal putus-putus)